بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم .
| Basmalah Dulu Baru Dicelupin.Img |
“Setiap
orang dapat tiga potong. Tolong dibagikan agar semua dapat”. Ustadz
Kadir menginstruksikan asistennya Kholil dan Maftuh. “Yang suka teh,
silakan dikasih teh, yang mau kopi, silakan. Kalau mau air putih,
silakan ambil sendiri”.
Hadirin tampak bingung. Sebagian senyum-senyum sendiri. Tidak biasanya ada pembagian biskuit seperti ini. Tapi tak ada satu pun yang berani memulai untuk bertanya. Semuanya seperti sabar menunggu penjelesan dari ustadz Kadir.
“Sudah dapat semua?”
“Sudaaaaaah”
“Baik. Sekarang ikuti saya. Pegang biskuitnya satu potong”
Jamaah melakukannya. Tiap orang memegang satu potong biskuit.
“Mari sama-sama kita ucapkan basmallah, bismillahirrahmanirrahim.. ...”
“Bismillahirrahmanirrahiii iiim......” hadirin serentak mengikuti
“Lalu lakukan apa yang saya lakukan.” Ustadz Kadir mencelupkan biskuitnya ke dalam gelas teh yang ada di depannya. Jamaah juga melakukannya. Sebagian masih tersenyum-senyum. Tapi melihat seriusnya Ustadz Kadir, tak ada yang berani melanjutkan senyum-senyum itu menjadi tawa.
“Mari kita makan biskuitnya” Ustadz Kadir mencontohkan. Semua mengikuti tanpa kecuali. Tanpa suara, biskuit itu selesai mereka makan.
“Sudah?” tanya ustadz Kadir.
“Sudaaah”
“Baik. Sekarang pegang biskuit yang kedua”
Jamaah melakukannya. “Mari ucapkan basmalah. Bismillahirrahmanirrahim.. .” Hadirin mengikuti.
“Sekarang ikuti yang saya lakukan”. Ustadz Kadir membelah dua biskuit tersebut. Mencelupkan setengah potongnya ke gelas teh lalu memakannya. Setelah itu, dia melakukan hal yang sama dengan setengah potong lainnya kemudian memakannya.
Hadirin serempak mengikuti. Potongan kedua biskuit itu pun selesai dieksekusi.
“Yang terakhir. Pegang lagi biskuitnya. Ucapkan basmalah, trus langsung dimakan”. Hadirinpun melakukannya.
Selesai menghabiskan potongan ketiga biskuit itu, Ustadz Kadir tersenyum dan menyapukan pandangannya ke jamaah. Jamaah ikut-ikutan tersenyum.
“Bapak-bapak tahu, tadi kita habis melakukan apa?”
“Makan biskuit, ustadz” sahut Pak Gani cepat.
“Betul sekali, pak Gani. Tapi apa maksudnya harus kita lakukan berulang-ulang?”
Diam. Tak ada yang bisa menjawab.
“Bapak-bapak sekalian. Tadi itu sesungguhnya kita sedang menghapus upaya hipnotis yang dilakukan oleh iklan TV. Sadar gak bapak-bapak, kalau setiap hari kita diajari cara makan yang salah? Bukan hanya kita, yang lebih parah lagi, korbannya anak-anak kita.”
Hadirin tercengang. Uraian Ustadz Kadir itu seperti menyengat kesadaran mereka.
“Setiap hari, tanpa kehadiran kita di samping mereka, anak-anak kita lebih dari sekali –-bahkan berkali-kali--dicekoki cara makan yang aneh. Yang lebih gawat, anak-anak kita secara perlahan tapi pasti diajari untuk meniadakan tahapan berdoa sebelum makan. Dan celakanya, kita semua seperti terhipnotis untuk membiarkannya. Jadi hari ini pengajian kita temanya adalah menghapus hipnotis tadi. Nah sekarang, silakan pulang. Praktekkan apa yang sudah kita praktekkan tadi kepada keluarga kita. Juga ingatkan tetangga dan saudara-saudara kita yang bukan muslim. Karena sebagai bangsa yang punya Tuhan, tidak layak kita makan tanpa berdoa. Yang gak punya biskuit, bisa mampir ke warungnya Ahung.”
* * *
Sepulang pengajian, ada sekitar lima orang yang berjalan berbarengan bersama Ahung menuju warungnya. Mereka semua mau membeli biskuit.
“Wah kita kok gak sadar ya selama ini sudah diajari yang aneh-aneh oleh iklan TV,” Kang Sobari berujar lugu.
“Iya kang. Itu namanya proses sugesti subliminal. Yaitu pesan yang seringkali dikemas menarik dan dilakukan berulang-ulang sehingga tertanam di bawah alam sadar kita. Dan secara tidak sadar juga, kita sudah menerima dan bahkan melakukannya. Cara menghapusnya antara lain seperti yang dilakukan Ustadz Kadir tadi” jelas Pak Guru Gunawan.
“Mbok yao kalau dagang, ya dagang saja gitu lho. Gak usah ngajari yang enggak-enggak. Kok ya kita diajari makan gak pake berdoa segala, kayak di negeri gak bertuhan saja kita dianggapnya” Mas Narso ngedumel.
“Sudah, Mas. Gak usah ngedumel. Yang penting kita bentengi saja diri kita dan keluarga kita. Juga tetangga kita, kalau bisa” Ahung berusaha bijak, meski dalam hatinya dia setuju dengan Mas Narso.
* * *
Keesokan paginya Ahung membuka warungnya. Dari ruang tamu, terdengar iklan biskuit yang jadi pembicaraan kemarin. Ahung masuk dan memperhatikan iklan tersebut dengan seksama. Serta merta terngiang kembali ungkapan Mas Narso
“Mbok yao kalau dagang, ya dagang saja gitu lho. Gak usah ngajari yang enggak-enggak. Kok ya kita diajari makan gak pake berdoa segala, kayak di negeri gak bertuhan saja kita dianggapnya”
Depok, 14 April 2012
Ayo bentengi diri kita dan keluarga kita!
Hadirin tampak bingung. Sebagian senyum-senyum sendiri. Tidak biasanya ada pembagian biskuit seperti ini. Tapi tak ada satu pun yang berani memulai untuk bertanya. Semuanya seperti sabar menunggu penjelesan dari ustadz Kadir.
“Sudah dapat semua?”
“Sudaaaaaah”
“Baik. Sekarang ikuti saya. Pegang biskuitnya satu potong”
Jamaah melakukannya. Tiap orang memegang satu potong biskuit.
“Mari sama-sama kita ucapkan basmallah, bismillahirrahmanirrahim..
“Bismillahirrahmanirrahiii
“Lalu lakukan apa yang saya lakukan.” Ustadz Kadir mencelupkan biskuitnya ke dalam gelas teh yang ada di depannya. Jamaah juga melakukannya. Sebagian masih tersenyum-senyum. Tapi melihat seriusnya Ustadz Kadir, tak ada yang berani melanjutkan senyum-senyum itu menjadi tawa.
“Mari kita makan biskuitnya” Ustadz Kadir mencontohkan. Semua mengikuti tanpa kecuali. Tanpa suara, biskuit itu selesai mereka makan.
“Sudah?” tanya ustadz Kadir.
“Sudaaah”
“Baik. Sekarang pegang biskuit yang kedua”
Jamaah melakukannya. “Mari ucapkan basmalah. Bismillahirrahmanirrahim..
“Sekarang ikuti yang saya lakukan”. Ustadz Kadir membelah dua biskuit tersebut. Mencelupkan setengah potongnya ke gelas teh lalu memakannya. Setelah itu, dia melakukan hal yang sama dengan setengah potong lainnya kemudian memakannya.
Hadirin serempak mengikuti. Potongan kedua biskuit itu pun selesai dieksekusi.
“Yang terakhir. Pegang lagi biskuitnya. Ucapkan basmalah, trus langsung dimakan”. Hadirinpun melakukannya.
Selesai menghabiskan potongan ketiga biskuit itu, Ustadz Kadir tersenyum dan menyapukan pandangannya ke jamaah. Jamaah ikut-ikutan tersenyum.
“Bapak-bapak tahu, tadi kita habis melakukan apa?”
“Makan biskuit, ustadz” sahut Pak Gani cepat.
“Betul sekali, pak Gani. Tapi apa maksudnya harus kita lakukan berulang-ulang?”
Diam. Tak ada yang bisa menjawab.
“Bapak-bapak sekalian. Tadi itu sesungguhnya kita sedang menghapus upaya hipnotis yang dilakukan oleh iklan TV. Sadar gak bapak-bapak, kalau setiap hari kita diajari cara makan yang salah? Bukan hanya kita, yang lebih parah lagi, korbannya anak-anak kita.”
Hadirin tercengang. Uraian Ustadz Kadir itu seperti menyengat kesadaran mereka.
“Setiap hari, tanpa kehadiran kita di samping mereka, anak-anak kita lebih dari sekali –-bahkan berkali-kali--dicekoki cara makan yang aneh. Yang lebih gawat, anak-anak kita secara perlahan tapi pasti diajari untuk meniadakan tahapan berdoa sebelum makan. Dan celakanya, kita semua seperti terhipnotis untuk membiarkannya. Jadi hari ini pengajian kita temanya adalah menghapus hipnotis tadi. Nah sekarang, silakan pulang. Praktekkan apa yang sudah kita praktekkan tadi kepada keluarga kita. Juga ingatkan tetangga dan saudara-saudara kita yang bukan muslim. Karena sebagai bangsa yang punya Tuhan, tidak layak kita makan tanpa berdoa. Yang gak punya biskuit, bisa mampir ke warungnya Ahung.”
* * *
Sepulang pengajian, ada sekitar lima orang yang berjalan berbarengan bersama Ahung menuju warungnya. Mereka semua mau membeli biskuit.
“Wah kita kok gak sadar ya selama ini sudah diajari yang aneh-aneh oleh iklan TV,” Kang Sobari berujar lugu.
“Iya kang. Itu namanya proses sugesti subliminal. Yaitu pesan yang seringkali dikemas menarik dan dilakukan berulang-ulang sehingga tertanam di bawah alam sadar kita. Dan secara tidak sadar juga, kita sudah menerima dan bahkan melakukannya. Cara menghapusnya antara lain seperti yang dilakukan Ustadz Kadir tadi” jelas Pak Guru Gunawan.
“Mbok yao kalau dagang, ya dagang saja gitu lho. Gak usah ngajari yang enggak-enggak. Kok ya kita diajari makan gak pake berdoa segala, kayak di negeri gak bertuhan saja kita dianggapnya” Mas Narso ngedumel.
“Sudah, Mas. Gak usah ngedumel. Yang penting kita bentengi saja diri kita dan keluarga kita. Juga tetangga kita, kalau bisa” Ahung berusaha bijak, meski dalam hatinya dia setuju dengan Mas Narso.
* * *
Keesokan paginya Ahung membuka warungnya. Dari ruang tamu, terdengar iklan biskuit yang jadi pembicaraan kemarin. Ahung masuk dan memperhatikan iklan tersebut dengan seksama. Serta merta terngiang kembali ungkapan Mas Narso
“Mbok yao kalau dagang, ya dagang saja gitu lho. Gak usah ngajari yang enggak-enggak. Kok ya kita diajari makan gak pake berdoa segala, kayak di negeri gak bertuhan saja kita dianggapnya”
Depok, 14 April 2012
Ayo bentengi diri kita dan keluarga kita!
Kanda irvan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar