Senin, 03 Juni 2013

Basmalah Dulu, Baru Dicelupin || Cerita

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم .

Basmalah dulu, baru dicelupin
Basmalah Dulu Baru Dicelupin.Img
“Setiap orang dapat tiga potong. Tolong dibagikan agar semua dapat”. Ustadz Kadir menginstruksikan asistennya Kholil dan Maftuh. “Yang suka teh, silakan dikasih teh, yang mau kopi, silakan. Kalau mau air putih, silakan ambil sendiri”.

Hadirin tampak bingung. Sebagian senyum-senyum sendiri. Tidak biasanya ada pembagian biskuit seperti ini. Tapi tak ada satu pun yang berani memulai untuk bertanya. Semuanya seperti sabar menunggu penjelesan dari ustadz Kadir.

“Sudah dapat semua?”

“Sudaaaaaah”

“Baik. Sekarang ikuti saya. Pegang biskuitnya satu potong”

Jamaah melakukannya. Tiap orang memegang satu potong biskuit.

“Mari sama-sama kita ucapkan basmallah, bismillahirrahmanirrahim.....”

“Bismillahirrahmanirrahiiiiiim......” hadirin serentak mengikuti

“Lalu lakukan apa yang saya lakukan.” Ustadz Kadir mencelupkan biskuitnya ke dalam gelas teh yang ada di depannya. Jamaah juga melakukannya. Sebagian masih tersenyum-senyum. Tapi melihat seriusnya Ustadz Kadir, tak ada yang berani melanjutkan senyum-senyum itu menjadi tawa.

“Mari kita makan biskuitnya” Ustadz Kadir mencontohkan. Semua mengikuti tanpa kecuali. Tanpa suara, biskuit itu selesai mereka makan.

“Sudah?” tanya ustadz Kadir.

“Sudaaah”

“Baik. Sekarang pegang biskuit yang kedua”

Jamaah melakukannya. “Mari ucapkan basmalah. Bismillahirrahmanirrahim...” Hadirin mengikuti.

“Sekarang ikuti yang saya lakukan”. Ustadz Kadir membelah dua biskuit tersebut. Mencelupkan setengah potongnya ke gelas teh lalu memakannya. Setelah itu, dia melakukan hal yang sama dengan setengah potong lainnya kemudian memakannya.

Hadirin serempak mengikuti. Potongan kedua biskuit itu pun selesai dieksekusi.

“Yang terakhir. Pegang lagi biskuitnya. Ucapkan basmalah, trus langsung dimakan”. Hadirinpun melakukannya.

Selesai menghabiskan potongan ketiga biskuit itu, Ustadz Kadir tersenyum dan menyapukan pandangannya ke jamaah. Jamaah ikut-ikutan tersenyum.

“Bapak-bapak tahu, tadi kita habis melakukan apa?”

“Makan biskuit, ustadz” sahut Pak Gani cepat.

“Betul sekali, pak Gani. Tapi apa maksudnya harus kita lakukan berulang-ulang?”

Diam. Tak ada yang bisa menjawab.

“Bapak-bapak sekalian. Tadi itu sesungguhnya kita sedang menghapus upaya hipnotis yang dilakukan oleh iklan TV. Sadar gak bapak-bapak, kalau setiap hari kita diajari cara makan yang salah? Bukan hanya kita, yang lebih parah lagi, korbannya anak-anak kita.”

Hadirin tercengang. Uraian Ustadz Kadir itu seperti menyengat kesadaran mereka.

“Setiap hari, tanpa kehadiran kita di samping mereka, anak-anak kita lebih dari sekali –-bahkan berkali-kali--dicekoki cara makan yang aneh. Yang lebih gawat, anak-anak kita secara perlahan tapi pasti diajari untuk meniadakan tahapan berdoa sebelum makan. Dan celakanya, kita semua seperti terhipnotis untuk membiarkannya. Jadi hari ini pengajian kita temanya adalah menghapus hipnotis tadi. Nah sekarang, silakan pulang. Praktekkan apa yang sudah kita praktekkan tadi kepada keluarga kita. Juga ingatkan tetangga dan saudara-saudara kita yang bukan muslim. Karena sebagai bangsa yang punya Tuhan, tidak layak kita makan tanpa berdoa. Yang gak punya biskuit, bisa mampir ke warungnya Ahung.”

* * *

Sepulang pengajian, ada sekitar lima orang yang berjalan berbarengan bersama Ahung menuju warungnya. Mereka semua mau membeli biskuit.

“Wah kita kok gak sadar ya selama ini sudah diajari yang aneh-aneh oleh iklan TV,” Kang Sobari berujar lugu.

“Iya kang. Itu namanya proses sugesti subliminal. Yaitu pesan yang seringkali dikemas menarik dan dilakukan berulang-ulang sehingga tertanam di bawah alam sadar kita. Dan secara tidak sadar juga, kita sudah menerima dan bahkan melakukannya. Cara menghapusnya antara lain seperti yang dilakukan Ustadz Kadir tadi” jelas Pak Guru Gunawan.

“Mbok yao kalau dagang, ya dagang saja gitu lho. Gak usah ngajari yang enggak-enggak. Kok ya kita diajari makan gak pake berdoa segala, kayak di negeri gak bertuhan saja kita dianggapnya” Mas Narso ngedumel.

“Sudah, Mas. Gak usah ngedumel. Yang penting kita bentengi saja diri kita dan keluarga kita. Juga tetangga kita, kalau bisa” Ahung berusaha bijak, meski dalam hatinya dia setuju dengan Mas Narso.


* * *

Keesokan paginya Ahung membuka warungnya. Dari ruang tamu, terdengar iklan biskuit yang jadi pembicaraan kemarin. Ahung masuk dan memperhatikan iklan tersebut dengan seksama. Serta merta terngiang kembali ungkapan Mas Narso

“Mbok yao kalau dagang, ya dagang saja gitu lho. Gak usah ngajari yang enggak-enggak. Kok ya kita diajari makan gak pake berdoa segala, kayak di negeri gak bertuhan saja kita dianggapnya”


Depok, 14 April 2012

Ayo bentengi diri kita dan keluarga kita!
 
Kanda irvan

Minggu, 02 Juni 2013

Dan yang Inipun Akan berlalu

Alkisah ada seorang raja yangg terkenal dengan kebijaksanaannya.     Dan pada suatu hari, sang raja meminta kepada tukang emasnya yang sudah tua renta untuk menuliskan sesuatu di dalam cincinnya.     Raja berpesan, “Tuliskanlah sesuatu yang bisa kamu simpulkan dari seluruh pengalaman & perjalanan hidupmu, supaya itupun bisa menjadi pelajaran untuk hidup saya”.
Dan yang Inipun Akan Berlalu.img

Alkisah ada seorang raja yangg terkenal dengan kebijaksanaannya.


Dan pada suatu hari, sang raja meminta kepada tukang emasnya yang sudah tua renta untuk menuliskan sesuatu di dalam cincinnya.


Raja berpesan, “Tuliskanlah sesuatu yang bisa kamu simpulkan dari seluruh pengalaman & perjalanan hidupmu, supaya itupun bisa menjadi pelajaran untuk hidup saya”.


Berbulan-bulan si tukang emas yang tua itu membuat cincinnya, lalu lebih sulitnya menuliskan apa yang penting di cincin emas yang kecil itu.


Akhirnya setelah berdoa & berpuasa, si tukang emas itupun menyerahkan cincinnya pada sang raja.


Dan dengan tersenyum, sang raja membaca tulisan kecil di cincin itu. Bunyinya,

“THESE TOO, WILL PASS”
(“DAN YANG INIPUN AKAN BERLALU”)


Awalnya sang raja tidak terlalu paham dengan apa yang tertulis di sana. Tapi, suatu ketika tatkala menghadapi persoalan kerajaan yang pelik, akhirnya ia membaca tulisan di cincin itu & ia pun menjadi lebih tenang, “Dan inipun akan berlalu.”


Dan tatkala ia sedang bersenang-senang, ia pun tak sengaja membaca tulisan di cincin itu, lantas ia menjadi rendah hati kembali.


Betul!


Ketika kita memiliki masalah besar ataupun sedang dalam kondisi terlalu gembira, ingatlah kalimat itu, “Dan inipun akan berlalu.”

Kalimat ini, bila direnungkan dengan bijak akan mengantarkan diri kita pada keseimbangan hidup.


Tidak ada satupun yang langgeng.


Jadi, ketika kita memiliki masalah, tidaklah perlu terlalu bersedih. Tapi, tatkala kita sedang senang, nikmatilah selagi kita bisa senang.


Ingatlah….


Apapun yang kita hadapi saat ini, semuanya akan berlalu..

Pesan Sang nenek

Dia ingat pesan neneknya agar shalat tepat waktu. “Anakku, jangan sekali-kali kamu mengakhirkan shalat hingga terlambat.” Neneknya berusia sekitar 70 tahun, tetapi jika mendengar suara adzan, dia segera bangun untuk melaksanakan shalat. Sedangkan dirinya, bagaimanapun keadaannya dia tidak pernah mampu mangalahkan egonya agar segera mendirikan shalat. Apapun yang dia kerjakan, shalat selalu diakhir waktu dan berdoa dengan sangat cepat agar selesai tepat waktu. Berpikir tentang ini, dia bangkit dan yakin masih ada waktu 15 menit sebelum waktu Isya’. Dengan segera, dia berwudhu dan melaksanakan shalat Maghrib. Ketika sedang bertasbih, dia ingat lagi akan pesan neneknya dan dia merasa malu tentang pelaksanaan shalatnya. Neneknya melaksanakan shalat dengan penuh ketenangan dan kedamaian. Mulailah dia berdoa dan bersujud di atas sajadah dan diam untuk beberapa saat.

pesan sang nenek
Pesan Sang nenek.img
Setiap hari dia pergi kesekolah, tentu melelahkan, sangat melelahkan. Dia terbangun dalam keadaan kaget karena ada suara atau teriakan. Dia berkeringat. Lalu melihat-lihat di sekitarnya. Di sana sangat ramai. Setiap arah yang dia lihat terdapat manusia. Di antaranya hanya berdiri melihat-lihat, di antaranya berlarian ke kiri dan ke kanan dan di antaranya berlutut dengan memegang kepala menunggu. Dia sangat ketakutan setelah dia sadar di manakah sebenarnya dirinya.

Hatinya seolah-olah meledak. Ini adalah hari pembalasan. Di saat dia hidup, dia telah mendengar banyak tentang pertanyaan pada hari pembalasan. Tetapi, hal itu terasa sangat lama. Apakah ini suatu khayalan belakang? Tidak, ini adalah penantian dan rasa takut yang teramat sangat dan belum pernah dia bayangkan sebelumnya. Tanda tanya itu masih terus terjadi.dengan penuh ketakutan dia mulai bertanya dari satu orang ke irang lain tentang apakah dirinya sudah dipanggil? Tak ada seorangpun yang bisa menjawabnya. Tiba-tiba namanya dipanggil dan kerumunan manusia itu membelah menjadi dua untuk memberikan jalan untuknya. Dua orang menarik lengannya dan membawanya ke depan. Dia berjalan di tengah-tenga kerumunan tanpa satu orangpun dikenalnya. Malaikat membawanya ketengah-tengah, lalu meninggalkannya disana. Kepalanya menunduk dan seluruh kejadian dalam hidupnya terlihat di depan matanya seperti melihat sebuah film. Dia membuka matanya, tetapi dia melihat dunia yang lain. Manusia yang saling tolong-menolong. Dia melihat ayahnya berpindah dari satu pengajian ke pengajian lain, menafkahkan seluruh kekayaannya untuk Islam. Ibunya mengundang tamu-tamu masuk ke rumah di saat meja-meja sedang ditata dan yang lain dibersihkan.

Dia membela diri, “Aku juga seklalu dijalan ini. Aku telah membantu orang lain. Aku juga telah menyebarkan firman-firman Allah dan aku juga menegakkan shalat. Aku puasa di bulan Ramadhan. Apa pun yang telah Allah perintahkan kepada kita, telah aku laksanakan. Dan apa yang telah Allah larang untuk kita lakukan, aku juga tidak melakukan.”Dia mulai menangis dan berpikir tentang betapa dia sangat cinta kepada Allah. Dia tahu, apapun yang telah dia lakukan semasa hidup tidak akan ada manfaatnya jika Allah tidak meridhai, dan satu-satunya pelindung adalah Allah. Dia terus mengeluarkan keringat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dan terus bergoncang. Matanya terus melihat ke arah timbangan, menunggu keputusan terakhir. Akhirnya, keputusan telah dibuat. Dua malaikat dengan lembaran-lembaran kertas ditangan mereka, menuju kearah kerumunan orang. Kakinya merasa seperti akan roboh. Dia menutup matanya tatkala mereka mulai membaca nama-nama orang yang masuk ke dalam Jahannam.

Namanya terbaca pertama kali. Dia jatuh berlutu dan berteriak bahwa ini tidak mungkin, “Bagaimana bisa aku masuk Jahannam? Aku membantu manusia sepanjang hidupku, aku telah menyebarkan firman-firman Allah kepada yang lain.”Matanya menjadi kabur dan dia bergetar penuh keringat. Dua malaikat mengambilnya dengan tangan. Ketika kakinya diseret, mereka mengelilingi kerumunan dan mengarah ke depan menuju nyala api Jahannam. Dia terus berteriak dan berharap semoga ada orang yang akan menolongnya. Dia terus meneriakkan hal-hal baik yang telah dia kerjakan; bagaimana dia telah menolong ayahnya, puasanya, shalatnya, dan bacaan Al-Qurannya. Dia bertanya kenapa tidak satupun di antara mereka yang mau menolong. Malaikat Jahannam terus menyeretnya. Mereka telah dekat dengan Neraka. Dia melihat kebelakang dan inilah permohonan terakhirnya. Bukankah Rasulullah bersabda, “Betapa sangat bersihnya orang yang mandi di sungai sehari lima kali, begitu juga bukankah orang yang melaksanakan shalat lima kali dalam sehari bisa membersihkan dosa-dosanya?” Dia mulai berteriak, “Shalatku-shalatku?”

Dua malaikat itu tidak berhenti dan mereka telah sampai di tepi jurang Jahannam. Nyala dari apinya telah membakar mukanya. Dia melihat ke belakang untuk terkahir kalinya, tapi matanya telah kering dari harapan dan dia sudah tidak memiliki apapun di belakang. Salah satu dari malaikat itu mendorongnya ke Jahannam.

Dia mendapatkan dirinya di udara dan jatuh menuju kobaran api. Dia telah hampir jatuh sekitar lima atau enam kaki ketika tiba-tiba ada tangan yang menarik lengannya kembali ke atas. Dia mengangkat kepalanya dan melihat seorang tua dengan jenggot putih. Dia menyeka debu yang ada dirinya lalu bertanya, “Siapakah dirimu?” Lelaki tua itu menjawab, “Akulah shalatmu.” “Kenapa kamu sangat terlambat! Aku hampir saja masuk ke dalam api! Kamu menyelamatkan aku di menit-menit terakhir sebelum aku jatuh.”Lelaki tua tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Kamu selalu melaksanakan aku pada menit-menit terakhir, apakah kamu lupa?”

Segera setelah itu, dia terjaga dan lalu mengangkat kepala dari sajadah. Tubuhnya berkeringat. Dia mendengar suara yang datang dari luar. Dia mendengar adzan untuk waktu shalat Isya’. Dia segera berdiri dan mengambil air wudhu.

“Ucapkanlah doa-doamu sebelum doa-doa diucapkan untukmu”

By :Akramulla Syed




Minggu, 26 Mei 2013

Puisi Tak Merdu || Puisi

Biarlah bosan menghampirimu sejenak ..
Menerawang pikiranmu perlahan ..
Menanamkan ide untuk beralih pergi ..
Dan ketika kau kehilangannya,
Mungkin kau akan rindu setengah mati ..

- puisi tak merdu -
22.33 WIB 26 Mei 2013

Jumat, 12 April 2013

Ketika Hati bertanya || Puisi

Apa yang kau Harapkan?
Aku mengharapkan Keraguan

keraguan yang menghinggapi diri
Yang membuatku kehilangan arti

Apa yang kau Inginkan?
Aku Inginkan KetidaKpastian

Ketidakpastian yang menyesakkan
Yang membuatku Ketakutan

Apa yang kau Takutkan?
Aku Takut akan Harapan

Harapan yang Meragukan
dan penuh Ketidakpastian

~Ketika Hati Bertanya

|> Fajar Ryandoko, 22 April 2013 pukul 22.01